Langsung ke konten utama

kelahiran seorang pelopor angkatan '45


dia adalah pelopor angkatan '45 yang membawa sesuatu yang baru dalam dunia sastra Indonesia. dia adalah figur seniman Indonesia yang Bohemian, arogan dan idealis. dia adalah sang "binatang jalang" yang ingin hidup seribu tahun lagi". dia adalah Chairil Anwar.

tidak dapat dibantah lagibahwa sajak-sajak Chairil bernilai, bahkan bernilai tinggi. bahasa yang digunakannya adalah bahasa Indonesia yang hidup, berjiwa, bukan lagi bahasa buku yang kaku. melainkan bahas apercakapan sehari-hari yang dibuatnya bernialai sastra. beberapa larik puisinya telah menjelma menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara seperti, "hidup hanya menunda kekalahan", "sekali berarti sudah itu mati", kami cuma tulang-tulang berserakan", dan terutama larik yang dikutip dalam puisi AKU yakni, "aku ini binatang jalang" atau "aku mau hidup seribu tahun lagi". sehingga orang berpendapat bahwa dengan munculnya sajak-sajak Chairil, sastra Indonesia telah lahir.
segera Chairil mendapat pengikut, penafsir, pembela dan penyokong. dalam bidang puisi muncul penyair Asrul Sani, Rivai Avin, M. Akbar Djuhana, P. Sengodjo, Dodong Djiwapraja, S. Rukiah, Wlujati, Harjadi S, Hartowardojo, Muh. Ali, dll.
akhirnya banyak orang berpendapat telah lahir angkatan kesusatraan baru. ada yang menyebutnya sebagai Angakatan sesudah perang, angkatan Chairil Anwar, angkatan kemerdekaan, dll. baru pada tahun 1948, Rosihan Anwar menyebut angkatan tersebutdengan sebutan Angkatan '45 dan nama itupun segera populer dan resmi digunakan oleh semua pihak.

Chairil Anwar lahir di Medan, pada tanggal 26 juli 1922, Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, Walau pendidikan MULO (settara SLTP) tidak tamat dan pindah ke Jakarta. dia adalah seorang yang banyak sekali membaca dan belajar sendiri, sehingga tulisan-tulisannya menjadi matang dan padat berisi.
Chairil muncul didunia kesenian pada jaman penjajahan Jepang. puisi pertamanya berjudul "Nisan" yang ditujukan untuk nenekkanda pada tahun 1942.
pada masa hidupna Chairil berbeda dengan penyair lain. Chairil muncul didunia kesenian buakan karena sajaknya mendapat hadiah, sambutan baik dari Kantor Pusat Kebudayaan ataupun berlomba-lomba mencipta sajak pesanan Jepang, tetapi dengan sifatnya yang eksentrik Chairil tidak mau dikuasai oleh Kantor Pusat Kebudayaan, malah ia sering mengejek kawan-kawan seniman yang berkumpul dikantor tersebut. dari esai-esai dan sajak-sajaknya jelas sekali Chairil seorang individualis yang bebas dan dengan berani secara demonstrative pula menentang sensor Jepang , hal ini menyebabkan ia selalu menjadi incaran Kenpetai atau polisi rahasia Jepang yang terkenal galak dan kejam. salah satu sajakya yang termasyur dan merupakan gambaran semangat hidupnya yang individualistis ialah sajak berjudul "Aku" (versi Deru campu debu) dalam sajak itu ia menyebutkan dirinya sebagai 'binatang jalang' sebutan yang membuat dirinya terkenal. ditempat lain puisi tersebut berganti judul menjadi "Semangat" (versi kerikil tajam dan yang terhempas dan yang terputus). dan beberapa larik puisinya berubah karena ancaman kenpetai.
selain menulis puisi, Chairil juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing kedalam bahasa Indonesia. dia juga mendirikan "gelanggang Seniman Merdeka"(1949). dan pernah menjadi redaktur Ruang Budaya Siasat "Gelanggang" (1948-1949) dan gema suasana(1949).
sajak-sajak Chairil terkumpul salam Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam dan Yang Terhempas Dan Yang Terputus (1949); Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin); sajak-sajak yang lain termasuk sajak terjemahan dan sepuluh prosa dihimpun H. B. Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan '45 (1956), buku kumpulan puisinya di terbitkan Gramedia berjudul "Aku Ini Binatang Jalang"(1986); Koleksi Sajak 1942-1949"(1986); "Derai-derai Cemara"(1998).

Komentar

  1. commmenttttttttttttt.........................................................................................................ku abdi tos di buka 5x da brek d comment t error wae....
    sugan gd tah bbnangan na..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Sajak, Melihat Lukisan

BAB 3 MEMBUAT SAJAK, MELIHAT LUKISAN Dalam prosanya “Membuat Sajak, Melihat Lukisan”, Chairil mengajak kita untuk melihat keindahan dengan cara matanya melihat. Dan melihat nilai-nilai karya seni yang lebih bernilai dan indah dengan pemahaman yang dianutnya, dan mencoba mengutarakan buah hasil dari ilmu-ilmu alam yang telah didapatnya. Hal ini merupakan warisan dari sang legenda penyair tanah air dan bisa jadi pelajaran yang sangat berguna. Di awal tulisannya Chairil berpendapat “Sajak terbentuk dari kata-kata” ,”sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain” namun bagi orang yang melihat keduanya tidak pernah mempertannyakan suatu karya (lukisan) dari kualitas cat ataupun kain sebagai sesuatu yang penting, dan utama tetapi adalah HASIL yang yang mereka cari! Dan hasil pun terdiri dalam bentuk dan isi. Namun “bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama, mereka gonta-ganti tutup menutupi.” Disinilah perasaan-perasaan si seniman harus menjadi bentuk dan “caranya menyata...

pembicaraan sajak-sajak Chairil Anwar

BAB 1 PEMBICARAAN SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR Beberapa sajak Chairil Anwar mengalami satu hal yang hingga saat ini belum tuntas di bicarakan. Sebagian sajaknya dalam beberapa versi sebagaimana nampak dalam Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terhempas Dan Yang Putus, Tiga Menguak Takdir, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 dan Kesusastraan Indonesia Dimasa Jepang. Kita ambil contoh sajak “Aku” versi Deru Campur Debu dan dalam Kerikil Tajam dan Yang Terhempas Dan Yang Putus berjudul “Semangat”. Di bait pertama sajaknya “Aku” berbunyi: Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘ kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulan nya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri … Sedangkan versi Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus, sajak itu diawali dengan : Kalau sampai waktuku Ku tahu tak seoran...

TIGA DOA, TIGA ANGKATAN

TIGA DOA, TIGA ANGKATAN Dalam persajakan, tentu saja lingkungan, jaman, usia, latar belakang serta sudut pandang menjadi dasar inspirasi yang masuk kedalam hati, pikiran dan akhirnya tertuang dalam bentuk karya seni. Dalam bab ini saya hanya akan menuliskan tiga sajak sebagai perbandingan tiga penyair dalam tiga jaman dalam sajak yang berjudul sama. Profil Pernyair yang pertama Adalah Amir Hamzah yang merupakan Raja Angkatan Pujangga Baru. Dilahirkan di Tanjungpura Langkat Sumatra Utara, 28 februari 1911 dan meninggal pada 20 Maret 1946. beliau adalah seorang penyair Religius dan seorang keturunan bangsawan. Dan harus meningalkan tanah Jawa dan sekolahnya di fakultas Hukum yang hampir selesai, dan konon jusa seorang gadis yang dicintainya. Yang kedua adalah Chairil Anwar sendiri sebagai Pelopor Angkatan 45 dan yang ketiga adalah Taufik Ismail yang lahir pada tahun 1937 di bukittinggi tetapi besar di Pekalongan. Termasuk kedalam angkatan 66, sajak-sajaknya yang di tulis dengan ...