BAB 4 MAUT, YAHUDI DAN PEREMPUAN Semenjak kehadirannya dalam dunia kepenyairan Chairil telah bergaul dengan apa yang namanya Maut atau kematian, lihat dalam sajaknya yang berjudul Nisan, yang ditujukan buat nenekanda-nya yang telah tiada. Di tulis pada bulan oktober 1942 dan terus pertanyaan tentang kematian, menjadi pemikirannya setiap saat, hingga Chairil pun terus merumuskan pertanyaan itu dengan cara menangtang seperti dalam sajak Aku atau Semangat hingga dia berkata “Aku mau hidup seribu tahun lagi” lalu akhirnya menyerah seperti dalam sajak Derai-Derai Cemara ”hidup hanya menunda kekalahan”,lalu ”sebelum pada akhirnya kita menyerah”. Begitulah dari awal kariernya hingga akhir hayatnya terus mempermasalahkan maut. Dalam menulis sajak, Chairil paling pandai mendalami penderitaan manusia lainnya, dan disatukannya dalam setiap langkah hidupnya. Sebab manusia tidak akan jauh menuliskan sesuatu kalau bukan dari pengalaman pribadinya sendiri. Dalam sajaknya yang berjudul...
blog ini berisi tentang penyair Chairil Anwar yang bersumber dari buku-buku yang terpercaya. semoga bermanfaat