Langsung ke konten utama

CHAIRILISME



Di Indonesia Chairil adalah penyairnya penyair, seorang penulis yang sejak tahun 1942 menyuburkan pertumbuhan dunia persajakan modern di Indonesia. Di sebut juga sebagai kelahirannya sastra Indonesia. Sebagai seorang penyair yang beraliran symbolis, Dengan penggunaan struktur yang ambigu dan kompleksitas membuat banyak karya-karyanya sulit di mengerti dan juga sarat pekat akan makna,hal ini juga pernah dibahas oleh A.H. Johns, dalam tulisannya “Chairil Anwar: An interpretation”, mendeskripsikan Chairil Anwar sebagai seniman yang berkepribadian lain. Arogan, eksentrik, terbakar dengan pemikiran daya hidup, menerjunkan diri tanpa sehelai keraguan. Bagi Chairil Anwar, standar, derajat dan strata sosial hanyalah pemisah ciptaan manusia. Yang tidak seharusnya mempengaruhi tingkatan rasa hormat, karena semua manusia itu sama
Norma-norma sosial kehidupan adalah penguat dan pendukung kemunafikan, dan Chairil memilih untuk “menghancurkan diri sendiri” daripada menerima norma-norma. Tanpa keraguan sedikitpun Chairil mendedikasikan diri seutuhnya kepada seni, Chairil Anwar masuk ke dalam karakter Bohemian, penganut kebebasan mutlak. ketidakstabilan merupakan bagian dari suatu persona, topeng untuk menyembunyikan identitas diri yang sesungguhnya. Jati diri hanya dapat ia ungkapkan di dalam puisi-puisi.
A.H. Johns menulis, dunia Chairil Anwar adalah dunia yang remuk, penuh dengan kekecewaan. Dan Chairil menerima dunianya sebagai suatu kenyataan. dunia tanpa arti adalah jauh lebih baik daripada dunia yang penuh utuh! Chairil ingin hidup seribu tahun lagi, dengan cara, metode dan gaya yang ia miliki, serta ia geluti untuk memerangi kekuatan kemunafikan dan bergembira ria di dalam kekurangannya bersetubuh dengan kemunafikan.

Chairil Anwar adalah seorang pendobrok kepenyairan Indonesia, karyanya lebih sempurna dari model karya seniman Belanda yang ia panuti. Sekalipun, karya Chairil Anwar dicap plagiator dan sajaknya tidak lagi orisinal menurut beberapa pendapat. Karena karyanya yang tersebar ternyata saduran dari beberapa karya orang lain. Namun karya Chairil Anwar lebih memiliki karakter yang khas, unik, terbentang lebar dalam ungkapan kata-kata.
beberapa orang berpendapat, karya Chairil Anwar dipengaruhi penyair Belanda beraliran expresionisme, yaitu Marsman dan Slauerhoff. Tetapi A. H Johns beranggapan, asumsi tersebut terlalu sempit dan sederhana., karya Chairil Anwar akan interior alam semesta dan dedikasi penuh dalam kesempurnaan teknik, menjadikan Chairil pewaris dari gerakan terbesar dunia persajakan modern, yang di inagurasikan dengan timbulnya aliran symbolisme di Perancis dan Belgia pada akhir abad ke 19.
Pada tanggal 15 Mai 1871, penyair Perancis beraliran Symbolisme, Arthur Jean Rimbaud, tipe radikal provokator anti borjuis, menulis surat kepada Paul Demeny (lettres du voyant). Rimbaud berpendapat “seorang penyair adalah seorang pencuri api sejati. dipenuhi oleh perasaan perikemanusiaan, dan perikebinatangan”. Seorang penyair harus mampu menyentuh, meraba, merasakan, mendengarkan seluruh imajinasi. Rasa cinta, penderitaan, kegilaan. Dan menemukan satu bahasa. yang mampu memahat jiwa untuk para jiwa, yang terbentuk dari kumpulan semerbak harum wewangian, aneka bunyi dan warna, dari suatu pikiran yang mengkait pikiran-pikiran lain, menariknya seerat mungkin maka Chairil Anwar adalah seorang pencuri api sejati yang menempa karya-karyanya dengan suhu panas maksimal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Sajak, Melihat Lukisan

BAB 3 MEMBUAT SAJAK, MELIHAT LUKISAN Dalam prosanya “Membuat Sajak, Melihat Lukisan”, Chairil mengajak kita untuk melihat keindahan dengan cara matanya melihat. Dan melihat nilai-nilai karya seni yang lebih bernilai dan indah dengan pemahaman yang dianutnya, dan mencoba mengutarakan buah hasil dari ilmu-ilmu alam yang telah didapatnya. Hal ini merupakan warisan dari sang legenda penyair tanah air dan bisa jadi pelajaran yang sangat berguna. Di awal tulisannya Chairil berpendapat “Sajak terbentuk dari kata-kata” ,”sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain” namun bagi orang yang melihat keduanya tidak pernah mempertannyakan suatu karya (lukisan) dari kualitas cat ataupun kain sebagai sesuatu yang penting, dan utama tetapi adalah HASIL yang yang mereka cari! Dan hasil pun terdiri dalam bentuk dan isi. Namun “bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama, mereka gonta-ganti tutup menutupi.” Disinilah perasaan-perasaan si seniman harus menjadi bentuk dan “caranya menyata...

pembicaraan sajak-sajak Chairil Anwar

BAB 1 PEMBICARAAN SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR Beberapa sajak Chairil Anwar mengalami satu hal yang hingga saat ini belum tuntas di bicarakan. Sebagian sajaknya dalam beberapa versi sebagaimana nampak dalam Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terhempas Dan Yang Putus, Tiga Menguak Takdir, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 dan Kesusastraan Indonesia Dimasa Jepang. Kita ambil contoh sajak “Aku” versi Deru Campur Debu dan dalam Kerikil Tajam dan Yang Terhempas Dan Yang Putus berjudul “Semangat”. Di bait pertama sajaknya “Aku” berbunyi: Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘ kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulan nya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri … Sedangkan versi Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus, sajak itu diawali dengan : Kalau sampai waktuku Ku tahu tak seoran...

MAUT, YAHUDI DAN PEREMPUAN

BAB 4 MAUT, YAHUDI DAN PEREMPUAN Semenjak kehadirannya dalam dunia kepenyairan Chairil telah bergaul dengan apa yang namanya Maut atau kematian, lihat dalam sajaknya yang berjudul Nisan, yang ditujukan buat nenekanda-nya yang telah tiada. Di tulis pada bulan oktober 1942 dan terus pertanyaan tentang kematian, menjadi pemikirannya setiap saat, hingga Chairil pun terus merumuskan pertanyaan itu dengan cara menangtang seperti dalam sajak Aku atau Semangat hingga dia berkata “Aku mau hidup seribu tahun lagi” lalu akhirnya menyerah seperti dalam sajak Derai-Derai Cemara ”hidup hanya menunda kekalahan”,lalu ”sebelum pada akhirnya kita menyerah”. Begitulah dari awal kariernya hingga akhir hayatnya terus mempermasalahkan maut. Dalam menulis sajak, Chairil paling pandai mendalami penderitaan manusia lainnya, dan disatukannya dalam setiap langkah hidupnya. Sebab manusia tidak akan jauh menuliskan sesuatu kalau bukan dari pengalaman pribadinya sendiri. Dalam sajaknya yang berjudul...